Halaman

PropellerAds

Senin, 28 Mei 2018

Legenda Rawa Pening

THE ORIGIN USING RAWA PENING

In ancient times in Ngasem village lived a girl named Endang Sawitri. The villagers no one knows that Endang Sawitri has a husband, but she is pregnant. Soon he gave birth and greatly shocked the people because the one born was not a baby but a dragon. Oddly enough the Dragon could speak like a human. The dragon is named "Baru Klinting".

In his teens Baru Klinting asked his mother. Mom, "Do I also have Daddy ?, who is the real father". Mother replied, "Your father is a king who is currently imprisoned in the cave slopes of Telomoyo mountain. You have time to find and meet your father. I'll let you go and bring this clint as a proof of your father's legacy. Gladly Baru Klinting went to Ki Hajar Salokantara hermitage.

Until the hermitage Baru Klinting went into the cave with respect, in front of Ki Hajar and asked, "Is this really the hermitage of Ki Hajar Salokantara?" Then Ki Hajar replied, "Yes, right", I Ki Hajar Salokantara. By worshiping in front of Ki Hajar, Baru Klinting says Ki Hajar means my parents have been looking for a long time, I am a child of Endang Sawitri from Ngasem village and this Klintingan(gulungan dalam istilah jawa)  which is said to be the mother of Ki Hajar relic. Yeah right, with evidence Klintingan it Ki Hajar said. But I need one more proof if you are my son try you circle this Telomoyo mountain, if you can, you are really my son. Apparently Baru Klinting can circle it and Ki Hajar admits that he is right his son. Ki Hajar then ordered Baru Klinting to meditate in a forest of mountain slopes.




One day the villagers of Pathok want to hold a charity after the harvest. They will perform various dances. To enliven the party people search for animals, but do'nt get a any one animal. Finally they found a great dragon who was imprisoned directly cut into pieces, his flesh brought home for the party. At the party's event came a emergent child of Baru Klinting participated in the crowd and wanted to enjoy the meal. With indifference and cynicism they throw the boy out of the party by force because it is considered a disgusting and disgraceful beggar. With hurt the boy left the party. He meets a nice old grandmother. He brought her home. The old grandmother treats the child like a respected guest and prepared the dish. In the house of an old grandmother, the child ordered, Nek, "If you hear a grandmother rumble must prepare the mortar, to be safe!". Grandma followed the boy's advice.

A moment later the boy returned to the party trying to come and ask for a meal at a party held by the villagers. But the residents still did not accept the child, even kicked away from the party. With anger the boy held a contest. He sticks a stick to the ground, who these villagers can pull it off. None of the villagers were able to remove the stick. Finally the boy himself who pulled it out, it turns out that the hole of the spring pops a spring that swells up and floods the village, the inhabitants are all drowned, except the Old Dow who entered the mortar and survived, all the villages into swamps(rawa-rawa), 

because the water is very clear, it is called "Rawa Pening" located in Semarang regency, Central Java.



Sumber : http://juragansejarah.blogspot.co.id/2014/10/legenda-rawa-pening-lengkap.html
Gambar : Seputarsemarang.com

Di terjemahkan pada Google Translate



ASAL USUL RAWA PENING

Pada zaman dahulu di desa Ngasem hidup seorang gadis bernama Endang Sawitri. Penduduk desa tak seorang pun yang tahu kalau Endang Sawitri punya seorang suami, namun ia hamil. Tak lama kemudian ia melahirkan dan sangat mengejutkan penduduk karena yang dilahirkan bukan seorang bayi melainkan seekor Naga. Anehnya Naga itu bisa berbicara seperti halnya manusia. Naga itu diberi nama Baru Klinting.

Di usia remaja Baru Klinting bertanya kepada ibunya. Bu, “Apakah saya ini juga mempunyai Ayah?, siapa ayah sebenarnya”. Ibu menjawab, “Ayahmu seorang raja yang saat ini sedang bertapa di gua lereng gunung Telomaya. Kamu sudah waktunya mencari dan menemui bapakmu. Saya ijinkan kamu ke sana dan bawalah klintingan ini sebagai bukti peninggalan ayahmu dulu. Dengan senang hati Baru Klinting berangkat ke pertapaan Ki Hajar Salokantara sang ayahnya.

Sampai di pertapaan Baru Klinting masuk ke gua dengan hormat, di depan Ki Hajar dan bertanya, “Apakah benar ini tempat pertapaan Ki Hajar Salokantara?” Kemudian Ki Hajar menjawab, “Ya, benar”, saya Ki Hajar Salokantara. Dengan sembah sujud di hadapan Ki Hajar, Baru Klinting mengatakan berarti Ki Hajar adalah orang tuaku yang sudah lama aku cari-cari, aku anak dari Endang Sawitri dari desa Ngasem dan ini Klintingan yang konon kata ibu peninggalan Ki Hajar. Ya benar, dengan bukti Klintingan itu kata Ki Hajar. Namun aku perlu bukti satu lagi kalau memang kamu anakku coba kamu melingkari gunung Telomoyo ini, kalau bisa, kamu benar-benar anakku. Ternyata Baru Klinting bisa melingkarinya dan Ki Hajar mengakui kalau ia benar anaknya. Ki Hajar kemudian memerintahkan Baru Klinting untuk bertapa di dalam hutan lereng gunung.



Suatu hari penduduk desa Pathok mau mengadakan pesta sedekah bumi setelah panen usai. Mereka akan mengadakan pertunjukkan berbagai macam tarian. Untuk memeriahkan pesta itu rakyat beramai-ramai mencari hewan, namun tidak mendapatkan seekor hewan pun. Akhirnya mereka menemukan seekor Naga besar yang bertapa langsung dipotong-potong, dagingnya dibawa pulang untuk pesta. Dalam acara pesta itu datanglah seorang anak jelmaan Baru Klinting ikut dalam keramaian itu dan ingin menikmati hidangan. Dengan sikap acuh dan sinis mereka mengusir anak itu dari pesta dengan paksa karena dianggap pengemis yang menjijikkan dan memalukan. Dengan sakit hati anak itu pergi meninggalkan pesta. Ia bertemu dengan seorang nenek janda tua yang baik hati. Diajaknya mampir ke rumahnya. Janda tua itu memperlakukan anak seperti tamu dihormati dan disiapkan hidangan. Di rumah janda tua, anak berpesan, Nek, “Kalau terdengar suara gemuruh nenek harus siapkan lesung, agar selamat!”. Nenek menuruti saran anak itu.

Sesaat kemudian anak itu kembali ke pesta mencoba ikut dan meminta hidangan dalam pesta yang diadakan oleh penduduk desa. Namun warga tetap tidak menerima anak itu, bahkan ditendang agar pergi dari tempat pesta itu. Dengan kemarahan hati anak itu mengadakan sayembara. Ia menancapkan lidi ke tanah, siapa penduduk desa ini yang bisa mencabutnya. Tak satu pun warga desa yang mampu mencabut lidi itu. Akhirnya anak itu sendiri yang mencabutnya, ternyata lubang tancapan tadi muncul mata air yang deras makin membesar dan menggenangi desa itu, penduduk semua tenggelam, kecuali Janda Tua yang masuk lesung dan dapat selamat, semua desa menjadi rawa-rawa,

karena airnya sangat bening, maka disebutlah “Rawa Pening” yang berada di kabupaten Semarang, Jawa Tengah.


Sumber : http://juragansejarah.blogspot.co.id/2014/10/legenda-rawa-pening-lengkap.html
Gambar : Seputarsemarang.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar